Suluhkarsakao's Blog

Media Suluh Karet, Sawit Dan Kakao

Peluang Penggunaan Pupuk Majemuk dan Pupuk Organik dari Limbah Kelapa Sawit

RINGKASAN.
Pemupukan merupakan salah satu faktor utama yang menentukan produktivitas tanaman. Ketersediaan pupuk secara tepat dosis dan tepat waktu sering menjadi masalah bagi pekebun kelapa sawit. Dalam hal ini pemakaian pupuk majemuk merupakan salah satu alternatif untuk menjamin penyediaan seluruh hara secara tepat waktu dan seimbang di dalam tanah. Sementara aplikasi pupuk organik dari limbah kelapa sawit merupakan langkah penting dalam memperbaiki kesuburan tanah, yang pada akhirnya dapat mengurangi penggunaan pupuk an‐organik. Tandan kosong kelapa sawit dan limbah cair pabrik kelapa sawit merupakan dua limbah utama yang memiliki kandungan hara cukup tinggi dan dapat dimanfaatkan sebagai sumber hara maupun sebagai bahan pembenah tanah. Pupuk organik dari limbah kelapa sawit juga dapat dimanfaatkan sebagai pupuk pada tanaman hortikultura.
Kata kunci : pupuk organik, pupuk majemuk, kelapa sawit.

1. Pendahuluan

Perkebunan kelapa sawit berkembang sangat pesat di Indonesia, dimana pada tahun 2005 luas perkebunan kelapa sawit diperkirakan mencapai 5,3 juta ha (Tabel 1). Kondisi lahan perkebunan tersebut sangat beragam, mulai dari yang subur dan sesuai untuk perkebunan kelapa sawit hingga lahan‐lahan marginal yang kurang subur. Tanaman kelapa sawit banyak menempati tanah‐tanah yang bereaksi masam sampai agak masam. Tanah‐tanah tersebut memiliki tingkat kesuburan kimia yang rendah, dengan kesuburan fisik yang beragam mulai yang rendah hingga cukup baik.
Upaya pemupukan secara berkesinambungan menjadi satu keharusan untuk mendukung produktivitas tanaman yang cukup tinggi mengingat kelapa sawit tergolong tanaman yang konsumtif terhdap unsur hara. Tercapainya produksi TBS yang optimal dan kualitas minyak yang baik merupakan tujuan dari pemupukan pada tanaman kelapa sawit. Kekurangan salah satu unsur hara akan menyebabkan tanaman menunjukkan gejala defisiensi dan mengakibatkan terhambatnya pertumbuhan vegetatif serta penurunan produksi tanaman. Beberapa penelitian telah menunjukkan besarnya respon tanaman terhadap pemupukan, yang dapat meningkatkan pertumbuhan dan produktivitas tanaman.

Biaya pemupukan tergolong tinggi, kurang lebih 30% dari total biaya produksi atau 40‐60% dari total biaya pemeliharaan (Rp 53.260‐,/ton TBS). Biaya pemupukan yang tinggi tersebut menuntut pihak praktisi perkebunan untuk secara tepat menentukan jenis dan kualitas pupuk yang akan digunakan dan mengelolanya sejak dari pengadaan hingga aplikasinya di lapangan. Ketepatan penyediaan semua jenis pupuk di kebun merupakan masalah yang selalu dihadapi pekebun untuk mencapai keseimbangan hara sesuai yang dianjurkan rekomendator pemupukan. Namun demikian, adanya berbagai jenis pupuk di pasar termasuk pupuk majemuk memberi peluang pada pekebun untuk memilih pupuk‐pupuk yang tepat bagi tanaman, dan mudah menanganinya. Selain itu bahan organik pada perkebunan kelapa sawit yang melimpah merupakan sumber hara yang perlu dimanfaatkan untuk tanaman kelapa sawit maupun tanaman lain.

2. Pentingnya Pemupukan Pada Tanaman Kelapa Sawit

Sebagian besar perkebunan kelapa sawit tersebut merupakan lahan kelas S3 (agak sesuai) yang umumnya merupakan lahan marjinal khususnya dalam hal kesuburan tanahnya sehingga keberhasilan pengusahaan perkebunannya sangat tergantung pada aplikasi pemupukan. Kebun kelapa sawit yang ada pada tahun 1999 sebagian besar berada di kelas S3 (agak sesuai) sekitar 38%, cukup besar di kelas S2 (sesuai) sekitar 28%, dan sangat sedikit di kelas S1 (sangat sesuai) sekitar 5%, serta di kelas NS (tidak sesuai). Kebun di lahan kelas S1 dan S2 hanya di jumpai di Sumatera khususnya di Sumatera Utara, sedangkan di luar Sumatera Utara umumnya berada di kelas S3 dan S2.

Kebutuhan pupuk sebagai salah satu input dari system produksi kelapa sawit cukup besar seiring dengan peningkatan luas areal perkebunan kelapa sawit. Hal ini juga berkaitan dengan penggunaan bahan tanaman dengan potensi produksi yang tinggi, serta penerapan kultur teknis lainnya secara lebih intensif sehingga mampu mengurangi faktor pembatas pertumbuhan tanaman. Kelapa sawit memerlukan pemupukan baik pada tahap pembibitan, tanaman belum menghasilkan (TBM), maupun tanaman menghasilkan (TM). Tanaman kelapa sawit memerlukan pupuk dalam jumlah yang tinggi, mengingat bahwa 1 ton TBS yang dihasilkan setara dengan 6,3 kg Urea, 2,1 kg TSP, 7,3 kg MOP, dan 4,9 kg Kiserit. Dengan asumsi tanaman kelapa sawit dipupuk secara penuh, Poeloengan et al (2001) memperkirakan perkebunan kelapa sawit pada tahun 2002 memerlukan 1,22 juta ton Urea, 0,82 juta ton RP, 0,94 juta ton MOP, dan 0,83 juta ton Dolomit.

3. Realisasi Pemupukan

Pencabutan subsidi pupuk telah menyebabkan naiknya harga pupuk sehingga kemampuan pekebun untuk membeli pupuk menurun. Sejak tahun 1998 realisasi pemupukan yang dilakukan pada perkebunan kelapa sawit masih belum sepenuhnya sesuai dengan sasaran yaitu tepat jenis, dosis, waktu, dan cara. Jenis pupuk yang dipakai dibeberapa kebun masih belum sesuai dengan spesifikasi yang diinginkan. Demikian waktu aplikasi pemupukan sering tidak sesuai dengan anjuran akibat sulitnya memperoleh pupuk, selain ketiadaan dana untuk pengadaan pupuk. Realisasi pemupukan pada beberapa perkebunan bervariasi dari 0% (tidak dipupuk) hingga 100% (dipupuk sesuai anjuran) (Tabel 2). Pemupukan yang tidak tepat waktu menyebabkan terjadinya ketidak‐seimbangan hara, menyulitkan pengaturan tenaga kerja di lapangan, dan turunnya efektivitas dan efisiensi pemupukan khususnya jika pemupukan dilakukan pada bulan‐bulan kering atau bulan yang terlalu basah.

Ketepatan pemupukan harus memperoleh perhatian pekebun, mengingat besarnya pengaruh pemupukan terhadap produktivitas tanaman. Tanaman yang tidak dipupuk satu kali dapat berakibat penurunan produksi tanaman hingga beberapa tahun. Berbagai penelitian menunjukkan bahwa pemupukan dapat meningkatkan produksi antara 6‐11% (Foot et al, 1987), 0‐35% (Gurmit, 1989), 5‐92% (Dolmat et al,1989). Beragamnya pengaruh pemupukan terhadap produktivitas tanaman tersebut oleh beragamnya jenis tanah, umur tanaman, kondisi iklim dan tingkat pengelolaan kultur teknis yang diterapkan oleh pekebun.

4. Jenis pupuk pada perkebunan kelapa sawit

Pupuk untuk tanaman kelapa sawit dapat dikelompokan menjadi pupuk an‐organik dan organik. Pupuk an‐organik terbagi atas : pupuk tunggal, pupuk campuran, dan pupuk majemuk. Selain itu akhir‐akhir ini juga beredar pupuk mikrobiologis yang mengandung berbagai jenis mikroba. Pemilihan jenis pupuk oleh pekebun disarankan dilakukan secara hati‐hati, mengingat benyaknya jenis pupuk yang beredar di pasar dengan berbagai bentuk dan komposisi hara.

Pupuk tunggal adalah kelompok pupuk yang hanya mengandung satu jenis hara utama. Pupuk tunnggal yang digunakan untuk memenuhi kebutuhan hara N,P,K, Mg,
dan Ca pada tanaman kelapa sawit yang umum digunakan adalah Urea dan ZA sebagai sumber hara N. TSP, SP‐36 dan RP sebagai sumber hara P. MOP sebagai sumber hara K, Kiserit dan Dolomit sebagai sumber hara Mg. Pupuk tunggal merupakan pupuk yang paling umum digunakan dalam pemupukan tanaman kelapa sawit, utamanya untuk tanaman menghasilkan. Biaya perunit hara dalam pupuk tunggal masih lebih rendah dibandingkan dengan jenis pupuk majemuk atau jenis pupuk lainnya. Akan tetapi biaya aplikasi pupuk tunggal menjadi lebih mahal, karena hanya satu jenis hara saja yang diaplikasikan pada setiap aplikasi pemupukan.

Pupuk campur merupakan campuran beberapa pupuk tunggal dengan perbandingan sesuai dengan kebutuhan pekebun. Pemakaian pupuk campur diharapkan dapat mengurangi biaya aplikasi khususnya bagi perkebunan yang kesulitan tenaga kerja. Pupuk tunggal yang digunakan sebagai bahan pupuk campur dipilih berdasarkan kandungan hara, serta kesesuaian sifat fisik (ukuran, higroskopisitas dll), maupun sifat kimia (reaksi kimia). Aplikasi pupuk campur jarang ditemukan pada perkebunan kelapa sawit di Indonesia.

Pupuk majemuk merupakan pupuk yang mengandung dua hara utama atau lebih. Umumnya berbentuk butiran yang seragam, hasil kombinasi beberapa sumber hara melalui proses kimiawi. Pupuk majemuk yang banyak beredar pada perkebunan kelapa sawit mempunyai beragam komposisi hara, dan biasanya dilakukan penambahan beberapa unsure mikro.

Pupuk organic merupakan pupuk yang berasal dari bahan organic, yang berasal dari limbah pabrik kelapa sawit maupun dari sumber lainnya. Hal ini berbeda dari keempat jenis pupuk yang telah disebutkan diatas yang merupakan pupuk an‐organik dari pabrik maupun hasil penambangan.

5. Peluang penggunaan pupuk majemuk pada tanaman kelapa sawit.

Pada tanaman kelapa sawit, pupuk majemuk umumnya digunakan pada tahapan pembibitan dan tanaman belum menghasilkan. Pupuk majemuk yang digunakan di pembibitan adalah pupuk majemuk NPKMg dengan komposisi 15‐15‐6‐4 dan 12‐12‐17‐2, berturut‐turut sebesar 50 dan 230 g/bibit selama di pembibitan utama (9 bulan). Pada pedo‐agroklimat dan umur yang seragam, kebutuhan hara untuk tanaman belum menghasilkan relativ sama, sehingga satu hamparan tanaman dapat memperoleh pupuk majemuk pada dosis dan komposisi kandungan hara yang sama.
Penggunaan pupuk majemuk pada tanaman kelapa sawit menghasilkan belum banyak dilakukan pekebun. Selain biaya per‐unit hara lebih mahal, manajemen aplikasinya juga lebih sulit. Tanaman dalam satu KCD (kesatuan contoh daun) mungkin memerlukan hara dalam jumlah dan komposisi yang berbeda dengan tanaman pada KCD lainnya, sehingga akan menyulitkan aplikasi pupuk majemuk yang memiliki komposisi dan kandungan hara yang telah tertentu. Namun demikian,
saat ini terdapat beberapa produsen pupuk yang mampu menghasilkan pupuk majemuk dengan komposisi sesuai dengan anjuran rekomendator pemupukan, sehingga tidak perlu menambah pupuk tunggal lainnya.
Sulitnya mempertahankan ketersediaan beberapa pupuk tunggal tepat pada waktunya merupakan alasan utama penggunaan pupuk mejemuk agar terdapat keseimbangan hara di dalam tanah. Ketersediaan hara di dalam tanah dipengaruhi oleh beberapa faktor yang saling berkaitan satu dengan lainnya, seperti pH tanah, KTK tanah, komposisi kation berkaitan dengan efek sinergisme maupun antagonisme di dalam tanah. Dengan demikian satu unsur hara perlu mempertimbangkan unsur hara lainnya agar hara tersebut berada dalam kondisi yang optimum di dalam tanah untuk dapat diserap tanaman. Komposisi ideal kation di dalam komplek pertukaran adalah 65% Ca, 10% Mg, 5% K, serta 20% H (Eckert, 1987). Sementara untuk tanaman kelapa sawit, Sugiyono dan Poeloengan (1998) mengemukakan angka 10% K, 60% Ca, dan 30% Mg berdasarkan pada berbagai pengamatan kondisi tanah di Indonesia. Ketidakseimbangan hara akan berakibat terganggunya ketersediaan salah satu hara bagi tanaman, seperti kasus antagonisme antara K dan Ca yang dilaporkan oleh Ollagnier et al, (1987), menunjukkan tingginya kandungan Ca (10,50 me/100 g) pada tanah alluvial di San Alberto, Columbia menyebabkan rendahnya respon tanaman terhadap pemupukan K.
Dalam hal ini keberadaan pupuk majemuk merupakan salah satu alternative yang perlu dipertimbangkan pekebun. Pupuk majemuk memiliki keunggulan dibandingkan dengan pupuk tunggal, yaitu lebih praktis dalam pemasaran, transportasi, penyimpanan, dan aplikasinya di lapangan karena satu jenis pupuk majemuk mengandung keseluruhan atau sebagian besar hara yang dibutuhkan tanaman. Satu hal yang perlu diperhatikan adalah dosis aplikasi pupuk majemuk harus selalu memperhatikan jumlah hara yang diperlukan tanaman.

6. Peluang pemanfaatan limbah kelapa sawit sebagai pupuk organik.

Bahan organik yang dihasilkan oleh pabrik kelapa sawit yang selama ini masih sering dianggap sebagai limbah merupakan sumber hara yang potensial bagi tanaman kelapa sawit, selain berfungsi sebagai bahan pembenah tanah. Bahan organik dalam tanah berfungsi untuk memperbaiki sifat fisik tanah seperti struktur tanah, kapasitas memegang air (water holding capacity) , dan sifat kimia tanah seperti KTK (Kapasitas Tukar Kation). Aplikasi kompos tandan kosong kelapa sawit pada percobaan di pot dapat meningkatkan KTK media tanah dari 20,6 mejadi 39,7 me/100 g tanah (Darmosarkoro, et.al),2001). Bahan organik juga mengandung unsur hara, sehingga aplikasi bahan organik juga berfungsi memperkaya hara tanah termasuk unsur hara makro. Selain itu bahan organik juga berfungsi sebagai bahan pembenah tanah.
Aplikasi bahan organik di lapangan dapat memperbaiki sifat fisik tanah seperti struktur dan porositas tanah.
Pabrik kelapa sawit (PKS) akan menghasilkan minyak sawit mentah (MSM) dan limbah baik padat maupun cair. Limbah PKS, baik padat maupun cair memiliki potensi dan pemanfaatan sebagai pupuk. Setiap ton tandan buah segar (TBS) yang diolah di pabrik akan menghasilkan 220 kg TKS, 670 kg limbah cair, 120 kg serat mesocarp , 70 kg cangkang, dan 30 kg palm kernel cake (Singh, et al, 1990). Tandan kosong kelapa sawit (TKS) merupakan bahan organik yang mengandung 42,8 % C, 2,90% K2O, 0,80% N, 0,22% P2O5, 0,30% MgO dan unsusr‐unsur mikro antara lain 10 ppm B, 23 ppm Cu, dan 51 ppm Zn. Setiap ton TKS mengandung unsur hara yang setara dengan 3 kg Urea, 0,6 kg RP, 12 kg MOP dan 2 kg kiserit (Long, et al, 1987).
Khusus untuk limbah cair, PKS memiliki potensi menghasilkan limbah cair per ton TBS yang paling besar dibandingkan dengan limbah lainnya (sekitar 50%). Lubis dan Tobing (1989) menyatakan bahwa setiap proses produksi 1 ton MSM dihasilkan limbah cair sebanyak 5 ton dengan BOD 20.000‐60.000 mg/l. Limbah cair kelapa sawit (LCPKS) akan menjadi bahan pencemar bila dibuang ke sungai. Keadaan tersebut akan membahayakan kehidupan manusia dan sejumlah biota di sungai. Ditinjau dari segi kandungan haranya, setiap 1 ton limbah PKS mengandung hara setara dengan 1,56 kg Urea, 0,25 kg TSP, 2,50 kg MOP, dan 1,00 kg kieserite (Lubis dan Tobing, 1989). Limbah cair PKS disamping sebagai sumber hara makro dan mikro yang penting bagi tanaman juga merupakan sumber bahan organic yang dapat berperan pada perbaikan sifat kimia dan sifat fisik tanah antara lain peningkatan kapasitas tukar kation (KTK) dan porositas tanah (Huan, 1987)

6.1. Aplikasi tandan kosong kelapa sawit (TKS)

Ketersediaan TKS cukup besar sejalan dengan peningkatan kapasitas PKS untuk menyerap TBS yang dihasilkan pekebun. Tandan kosong kelapa sawit yang dihasilkan antara 22‐23% dari jumlah TBS yang diolah (Singh, et al, 1989). Aplikasi TKS langsung sebagai mulsa pada pertanaman kelapa sawit merupakan salah satu alternativ pemanfaatan TKS yang mulai banyak dilakukan di beberapa kebun. Sebagai sumber bahan oragnik yang kaya unsur hara, penggunaan TKS sebagai mulsa diharapkan dapat meningkatkan kadar bahan organik tanah dan kandungan hara tanah, juga dapat memperbaiki sifat fisik tanah seperti struktur tanah, aerasi dan kemampuan menahan air (water holding capacity) (Silver et al, 1997; RRIM, 1991).
Aplikasi TKS sebagai mulsa secara umum dilaporkan oleh Siahaan (1997) berpengaruh terhadap produksi TBS kelapa sawit. Aplikasi TKS dengan dosis 40 dan 60 ton TKS/ha/tahun sebagai mulsa tanpa aplikasi pupuk standar dapat meningkatkan produksi secara berturut‐turut 11% dan 13% di atas produksi kontrol (dilakukan pemupukan standar tetapi tanpa aplikasi TKS), sedangkan aplikasi 40 ton TKS/ha yang dikombinasikan dengan 60% dosis pupuk urea dan RP dari standar
kebun dapat meningkatkan produksi TBS sebesar 34% dari perlakuan standar. Besarnya kenaikan produksi pada tiap dosis TKS bergantung pada besarnya dosis pupuk standar yang ditambahkan. Perbaikan sifat tanah yang diperoleh dari aplikasi TKS secara umum berpengaruh terhadap peningkatan produksi TBS. Siahaan et, al (1997) melaporkan bahwa peningkatan produksi TBS dimulai pada tahun kedua setelah aplikasi, baik melalui peningkatan jumlah tandan per‐pohon maupun rerata berat tandan.

6.2 Aplikasi kompos TKS

Tandan kosong kelapa sawit mempunyai kadar C/N yang tinggi yaitu 45‐55. Hal ini dapat menurunkan ketersediaan N pada tanah karena N termobilisasi dalam proses perombakan bahan organik oleh mikroba tanah. Usaha penurunan kadar C/N dapat dilakukan dengan proses pengomposan sampai kadar C/N mendekati kadar C/N tanah. Pengomposan merupakan salah satu cara untuk meningkatkan nilai hara dan penurunan volume TKS. Kompos yang telah matang ditandai dengan nisbah C/N sebesar 10‐15. Proses pengomposan ini memerlukan waktu sekitar 6‐8 minggu. Lamanya proses dekomposisi TKS karena limbah tersebut banyak mengandung ligoselulosa yang sulit dekoposisi. TKS mengandung 45,95% selulosas, 16,49% hemiselulosa, dan 22,84 % lignin (Darnoko et.al, 1993).
Hasil penelitian aplikasi kompos pada pembibitan kelapa sawit menunjukkan bahwa penambahan kompos TKS pada pembibitan utamam dapat meningkatkan pertumbuhan bibit kelapa sawit. Diameter batang bibit meningkat 18‐33% terhadap perlakuan tanpa aplikasi kompos, sedangkan tinggi bibit meningkat 16‐26% terhadap perlakuan tanpa aplikasi kompos. Kombinasi perlakuan aplikasi kompos TKS sebesar 5% dan pupuk standar pembibitan sebesar 50% menunjukkan perbedaan yang nyata lebih tinggi terhadap bobot kering bibit dibandingkan dengan perlakuan pupuk standar sebesar 100% (tanpa kompos). Sementara bobot kering bibit meningkat hingga 65% terhadap perlakuan pemupukan 100% standar pembibitan kelapa sawit.
Kompos TKS dapat digunakan sebagai bahan pembenah tanah yang meningkatkan efektivitas pemupukan, selain sebagai sumber unsur hara bagi tanaman. Selain digunakan pada tanaman kelapa sawit, kompos TKS juga dapat digunakan pada tanaman semusim atau hortikultura. Hasil penelitian Darnoko dan Sembiring (2005) menunjukkan bahwa aplikasi 4 ton kompos TKS/ha dapat meningkatkan produksi padi sebesar 5% terhadap kontrol tanpa kompos. Sementara kompos TKS juga dapat dimanfaatkan sebagai sumber hara pada tanaman cabe maupun jeruk manis.

6.3. Aplikasi Limbah Cair Pabrik Kelapa Sawit

Pemanfaatan limbah cair sebagai pupuk/bahan pembenah tanah di perkebunan kelapa sawit sangat dimungkinkan atas dasar adanya kandungan hara dalam limbah
tersebut. Pemanfaatan limbah ini disamping sebagai sumber pupuk/bahan organik juga akan mengurangi biaya pengolahan limbah sebesar 50‐60% (Pamin, et al, 1996)
Berbagai hasil penelitian dan pengamatan aplikasi limbah cair pada perkebunan kelapa sawit umumnya melaporkan bahwa aplikasi tersebut secara nyata dapat meningkatkan produksi kelapa sawit (Tabel 3). Hasil percobaan PPKS menunjukkan bahwa kombinasi pemberian limbah cair dengan dosis 12,66 mm ECH per‐bulan dengan pupuk organik sebanyak 50% dari dosis standar kebun, dapat meningkatkan produksi tandan buah segar (TBS) sebesar 36% dibanding pada perlakuan tanpa aplikasi limbah cair dengan aplikasi pupuk standar kebun 100%.
PT. PN III juga telah melakukan aplikasi limbah cair PKS di beberapa kebun antara lain kebun Aek Nabara Selatan, Sisumut, Torgamba dan Sei Baruhur. Dosis aplikasi limbah yang digunakan adalah 10 cm ECH/ha/th dengan frekuensi aplikasi setiap dua bulan (setiap aplikasi 185 m3/ha) dan pemberian pupuk an‐organik dosis standar.

Kenaikan produksi TBS tersebut disebabkan oleh adanya kenaikan kedua komponen produksi yaitu jumlah tandan dan bobot tandan. Berdasarkan hasil penelitian PPKS, dosis aplikasi limbah cair yang dianjurkan adalah 12,66 mm ECH/bulan yang dikombinasikan dengan 50% dosisi pupuk standar kebun. Dosis 12,66 mm ECH/bulan setara dengan 126.000 liter/ha.

7. Penutup

Aplikasi pupuk majemuk merupakan salah satu alternative dalam menjamin keseimbangan hara dalam aplikasi pemupukan. Aplikasi pupuk majemuk hendaknya tetap mengacu pada kebutuhan hara tanaman. Sementara pemanfaatan limbah pabrik kelapa sawit menjadi langkah penting dalam menyikapi semakin meningkatnya harga pupuk. Aplikasi pupuk organik dari limbah kelapa sawit telah banyak diterapkan pekebun guna meningkatkan efektifitas pemupukan, sekaligus sebagai sumber hara bagi tanaman. Selain dapat digunakan pada perkebunan kelapa sawit, pupuk organik dari limbah kelapa sawit juga dapat digunakan pada tanaman pertanian lainnya.

Januari 31, 2010 Posted by | Uncategorized | | Tinggalkan komentar

PEMUPUKAN TM

Pemupukan Tanaman Menghasilkan (TM)

  • Sasaran pemupukan : 4 T ( Tepat jenis, dosis, waktu dan metode)

  • Dosis pupuk ditentukan berdasarkan umur tanaman, hasil analisa daun, jenis tanah, produksi tanaman, hasil percobaan dan kondisi visual tanaman.

  • Waktu pemupukan ditentukan berdasarkan sebaran curah hujan.

Standar Dosis Pemupukan Tanaman Menghasilkan ( TM )
Pada Tanah Gambut :

Kelompok Umur

(Tahun)

Dosis Pupuk (kg/pohon/tahun)
Urea Rock Phosphate MOP
(KCl)
Dolomit Jumlah
3 – 8 2,00 1,75 1,50 1,50 6,75
9 – 13 2,50 2,75 2,25 2,00 9,50
14 – 20 1,50 2,25 2,00 2,00 8,00
21 – 25 1,50 1,50 1,25 1,50 5,75

Standar Dosis Pemupukan Tanaman Menghasilkan (T M )
Pada Tanah Mineral
:

Kelompok Umur

(Tahun)

Dosis Pupuk (gram/pohon)
Urea SP-36 MOP ( KCl) Kieserite Jumlah
3 – 8 2,00 1,50 1,50 1,00 6,00
9 – 13 2,75 2,25 2,25 1,50 8,75
14 – 20 2,50 2,00 2,00 1,50 7,75
21 – 25 1,75 1,25 1,25 1,00 5,25

Diposkan oleh Komunitas Pekebun Dan Pemerhati Kelapa Sawit di 19:24

Januari 31, 2010 Posted by | Uncategorized | | Tinggalkan komentar

PEMUPUKAN TBM

Pemupukan Tanaman Belum Menghasilkan (TBM)

  • Dosis pupuk ditentukan berdasarkan umur tanaman, jenis tanah, kondisi penutup tanah, kondisi visual tanaman.

  • Waktu pemupukan ditentukan berdasarkan jadual, umur tanaman.

  • Pada waktu satu bulan, ZA ditebar dari pangkal batang hingga 30 – 40 Cm.

  • Setelah itu ZA, Rock Phosphate, MOP dan Kieserit ditaburkan merata hingga batas lebar tajuk.

  • Boron ditebarkan diketiak pelepah daun

  • ZA, MOP, Kieserite dapat diberikan dalam selang waktuyang berdekatan.

  • Rock Phosphate tidak boleh dicampur dengan ZA. Rock Phosphate dianjurkan diberikan lebih dulu dibanding pupuk lainnya jika curah hujan > 60 mm.

  • Jarak waktu pemberian Rock Phosphate dengan ZA minimal 2 minggu.

  • Pupuk MOP tidak dapat diganti dengan Abu Janjang Kelapa Sawit.

Standar Dosis Pemupukan Tanaman Belum Menghasilkan (TBM)
Pada Tanah Gambut
:

Umur

(Bulan)*

Dosos Pupuk (gram/pohon)
Urea Rock Phosphate MOP
( KCl)
Dolomit HGF-B CuSO4
Lubang tanaman 25
3 100 150 200 100
6 150 150 250 100
9 150 200 250 150 25
12 200 300 300 150
16 250 300 300 200 25
20 300 300 350 250
24 350 300 350 300 50
28 350 450 450 350 50
32 450 450 500 350
*) Setelah tanam di lapangan

Standar Dosis Pemupukan Tanaman Belum Menghasilkan (TBM)
Pada Tanah Mineral :

Umur

(Bulan)*

Dosos Pupuk (gram/pohon)
Urea TSP MOP
( KCl)
Kieserite HGF-B Rock Phosphate
Lubang tanaman 500
1 100
3 250 100 150 100
5 250 100 150 100
8 250 200 350 250 20
12 500 200 350 250
16 500 200 500 500 30
20 500 200 500 500
24 500 200 750 500 50
28 750 300 1.000 750
32 750 300 1.000 750
*) Setelah tanam di lapangan



Januari 31, 2010 Posted by | Uncategorized | | Tinggalkan komentar

WAKTU PEMUPUKAN

Waktu Pemupukan

  1. Pemupukan dilakukan pada waktu hujan kecil, namun > 60 mm/bulan. Pemupukan ditunda jika curah hujan kurang dari 60 mm per bulan.
  2. Pupuk Dolomit dan Rock Phosphate diusahakan diaplikasikan lebih dulu untuk memperbaiki kemasaman tanah dan merangsang perakaran, diikuti oleh MOP (KCl) dan rea/Z A.
  3. Jarak waktu penaburan Dolomit/Rock Phosphate dengan Urea/Z A minimal 2 minggu.
  4. Seluruh pupuk agar diaplikasikan dalam waktu 2 (dua) bulan.

Frekwensi Pemupukan

  1. Pemupukan dilakukan 2 – 3 kali tergantung pada kondisi lahan, jumlah pupuk, dan umur – kondisi tanaman.
  2. Pemupukan pada tanah pasir dan gambut perlu dilakukan dengan frekwensi yang lebih banyak.
  3. Frekwensi pemupukan yang tinggi mungkin baik bagi tanaman, namun tidak ekonomis dan mengganggu kegiatan kebun lainnya

Januari 31, 2010 Posted by | Uncategorized | | Tinggalkan komentar

METHODE PEMUPUKAN

Cara Pemupukan

  1. Pemupukan dilakukan dengan sistem tebar dan sistem benam (Pocket)
  2. Pada sistem tebar, pupuk ditebarkan di piringan pada jarak 0,5 meter hingga pinggir piringan pada tanaman muda, dan pada jarak 1 – 2,4 meter pada tanaman dewasa.
  3. Pada sistem pocket, pupuk diberikan pada 4 – 6 lubang pada piringan disekeliling pohon. Kemudian lubang ditutup kembali. Sistem pocket disarankan pada areal rendahan, areal perengan ataupun pada tanah pasiran yang mudah tercuci/tererosi.
  4. Pada tapak kuda, 75 % pupuk diberikan pada areal dekat tebing. Untuk mengurangi pencucian, pupuk ini sebaiknya diaplikasikan dengan sistem pocket.

Berdasarkan alat yang digunakan, Pemupukan dapat dilakukan secara manual, mekanis, maupun dengan Pesawat terbang.

  • Pemupukan manual paling umum dan mudah dilakukan.

  • Pemupukan mekanis menggunakan alat (traktor) penebar pupuk untuk areal yang relatif rata. Cara ini banyak diterapkan karena sulitnya memperoleh tenaga kerja pemupuk

  • Aerial spraying sesuai untuk aplikasi pupuk padaareal yang sulit terjangkau dan daerah yangsulit memperoleh tenaga kerja.
Aplikasi sistem tebar Pada areal perengan seperti ini aplikasi pupuk perlu dilakukan dengan sistem pocket.

Januari 31, 2010 Posted by | Uncategorized | | Tinggalkan komentar

PERSIAPAN PEMUPUKAN

Persiapan

  1. Pembenahan piringan, pasar pikul, rorak, tapak kuda, tapak timbun dan lain-lain.
  2. Penghancuran pupuk yang menggumpal
  3. Takaran pupuk dibuat per jenis dan dosis pupuk. Sapu lidi pendek ( 15 Cm ) berbentuk kipas untuk penebaran pupuk.
  4. Luas areal yang dipremikan maksimal 30 % areal pemupukan hari itu.
  5. Persiapan : Kebutuhan jenis dan dosis pupuk dan jumlah pohon, tenaga penebar, pengecer, pengangkut pupuk, transportasi pupuk ke lapangan.

x
Pemupukan pada areal yang sering tergenang air tidak ada gunanya sebelum adanya perbaikan drainase atau pembangunan tapak timbun
x
Tapak timbun

  1. Formulir AU-58 untuk permintaan pupuk
  2. Membuat rencana harian
  3. Membuat peta rencana pemupukan harian
  4. Membuat Barchart rencana – realisasi pemupukan
  5. Menentukan letak SPB (5 – 10 ha/SPB) dan letak SPK ( > 2 ha/SPK)
  6. Tenaga pemupukan :

– Areal rata : 2 penabur + 1 pengecer

– Areal perengan : 3 penabur + 2 pengecer

  1. Pemupukan diangkut ke lapangan sebelum jam 06.00 wib. Penebaran pupuk dimulai jam 06.30 wib

Januari 31, 2010 Posted by | Uncategorized | | Tinggalkan komentar

JENIS DAN SIFAT PUPUK

Sumber Hara

  1. Tanah
  2. Residu tanaman : Pelepah, Tandan Kelapa Sawit, Abu janjang, Limbah cair dan kacangan penutup tanah.
  3. Pupuk An-Organik : Tunggal, Campur, Majemuk, Majemuk khusus

Pupuk An-Organik

  1. Pupuk tunggal : Mengandung satu hara utama, tidak terlalu mahal per kg hara, mahal dibiaya kerja, mudah diberikan sesuai rekomendasi.
  2. Pupuk Campur : Campuran beberapa pupuk tunggal secara manual, sekali aplikasi, tidak semua pupuk dapat dicampur, keseragaman campuran beragam, sulit untuk diterapkan untuk tanaman menghasilkan.
  3. Pupuk Majemuk : Satu formulasi mengandung beberapa hara utama, harga per kg hara mahal, sekali aplikasi, mudah disimpan, biaya aplikasi murah, sulit diterapkan untuk tanaman menghasilkan.
  4. Pupuk Majemuk Khusus : Pupuk majemuk yang dibuat secara khusus, seperti dalam bentuk tablet atau pelet. Harga per satuan hara lebih mahal dibandingkan pupuk lainnya, efektivitas masih perlu diuji.

Sifat Pupuk

Sifat pupuk sangat beragam sehingga pemilihan pupuk hendaknya mengacu pada Standar Nasional Indonesia ( SNI ) yang telah ada.

Sumber Hara Hara Utama N P2O5 K2O MgO CaO B Cu S Cl
1. Pupuk Tunggal
– Urea N 46
– Ammonium Nitrat (AN) N 35
– Sulphate of Ammonia (SOA – ZA) N, S 21 24
– Rock Phosphate (RP) P, Ca 30 45
– Triple Super Phosphate (TSP) P, Ca 46 20
– Single Super Phosphate (SSP) P, Ca, S 18 25 11
– Muriate of Potash (MOP – KCl) K, Cl 60 35
– Sulphate of Potash (SOP-ZK) K, S 50 17
– Kieserite Mg, S 27 23
– Dolomit Mg, Ca 22 30
– Sulfur S 97
– Borate B 11
– Copper Sulphate (CuSO4.H2O) Cu 25 13
– Langbeinite K, Mg, S 22 18 22
2. Pupuk Majemuk
– Diammonium Phosphate (DAP) N, P 18 46
– NPK (12-12-17-2) N,P,K,Mg 12 12 17 2
– NPK (15-15-6-4) N,P,K,Mg 15 15 6 4
– NPK (15-15-15) N,P,K 15 15 16
3. Sisa – sisa Tanaman
– Abu tandan kosong K, Mg, Ca 4 40 6 5
– Tandan kosong N, K <> 0,1 1,2 0,1 0,1
– Pelepah hasil tunasan N, P, K 0,5 0,1 0,8 0,1 0,1
– Limbah cair PKS N, K, Mg 0,4 0,2 1,3 0,4
Karakteristik Pupuk Urea dan ZA
Keterangan Jenis Pupuk
Urea Z A
Kadar N (%) 42 – 46 21
Hara lain (%) 24 % S
Kelarutan dalam air (gr/ltr) 1.030 750
Reaksi agak masam masam
Higroskopisitas tinggi kurang
Pencucian/penguapan tinggi sedang
Ketersediaan mudah mudah
Dosis standar (kg/phn/thn)

(umur 9 – 13 thn)

2,75 4,5
Karakteristik Pupuk Phosphate
Keterangan Jenis Pupuk
RP-Gafsa RP-Maroco CIRP TSP SP-36
P2O5
(larut asam sitrat 2 %)
26,7 33,1 28 46 36
Hara Lain :

– CaO (%)

– Al2O3 + Fe2O3 (%)

– S (%)

49,8

0,2

48,2

0,18

35,7

9,3

18,3

0

5

Kelarutan dalam air
( gr/ltr )
0,125 > 99
Reaksi Netral – basa Netral – basa Netral – basa Masam Agak masam
Higroskopisitas
Kehalusan :

  • Mesh 80 (%)

  • Mesh 100 (%)

63

91

29

80

60

99

Ketersediaan Mudah Mudah Mudah Tidak tersedia Mudah
Dosis standar (kg/phn/thn)

(umur 9 – 13 thn)

1,75 2,25
Karakteristik Pupuk ZK dan KCl/MOP
Keterangan Jenis Pupuk
ZK MOP/KCl
Kadar K2O (%) 49 – 53 21
Hara lain (%) 18 % S 47 % Cl
Kelarutan dalam air larut larut
Reaksi netral netral
Higroskopisitas
Ketersediaan mudah mudah
Dosis standar (kg/phn/thn)

(umur 9 – 13 thn)

2,25
Karakteristik Pupuk Magnesium
Keterangan Jenis Pupuk
Kieserite Dolomit Dolomit – Lokal
Kadar MgO (%) 27 18 – 22 2,9 – 37,7
Hara lain (%) 22 % S 40 % CaO 0,9 – 48 % CaO

0,04 – 4,21 % Fe2O3

35 – 45 % SiO2

Kelarutan dalam air Agak sukar sukar
Reaksi Agak masam Basa
Higroskopisitas
Kehalusan Bervariasi

> 95 % (mesh 100)

Bervariasi

> 90 % (mesh 80)

Ketersediaan mudah mudah mudah
Dosis standar (kg/phn/thn)

(umur 9 – 13 thn)

1,5 2 – 2,5

Pencampuran Beberapa Jenis Pupuk

Urea Z A R P SP-36 ZK MOP Kieserite Dolomit
Urea a N a a a N
Z A N a N x x a
R P a
SP-36 a N a x a N
ZK a x x a a a
MOP a x a a a a
Kieserite a
Dolomit N a N a a a
Keterangan :

  • a = Dapat dicampur
  • N = Pupuk dapat dicampur segera sebelum digunakan
  • x = Pupuk tidak dapat dicampur

Januari 31, 2010 Posted by | Uncategorized | , | Tinggalkan komentar

UNSUR HARA YANG DIAMBIL TANAMAN KELAPA SAWIT

Jumlah Unsur Hara yang diangkut oleh tanaman Kelapa Sawit dari dalam tanah per Ha/tahun.

Komponen Jumlah unsur Hara ( kg/ha/tahun )
N
P
K
Mg
Ca
Pertumbuhan Vegetatif
40,9
3,1
55,7
11,5
13,8
Pelepah Daun yang ditunas
67,2
8,9
86,2
22,4
61,6
Produksi TBS (25 ton/ha)
73,2
11,6
93,4
20,8
19,5
Bunga Jantan
11,2
24
16,1
6,6
4,4
Jumlah
192,5
47,6
251,4
61,3
99,3

Sumber : Siahaan et.al (1990)

Jumlah Pupuk yang diangkut oleh Tanaman Kelapa Sawit per Ha/tahun

Komponan Jumlah unsur Hara ( kg/ha/tahun )
Urea
SP-36
KCl
Kieserite
Dolomit
Pertumbuhan Vegetatif
88,9
19,7
354
70,7
86,8
Pelepah Daun yang ditunas
146,1
56,6
548
137,7
169
Produksi TBS (25 ton/ha)
159,1
73,8
594
127,9
156,9
Bunga Jantan
24,4
152,7
102
40,6
49,8
Jumlah
418,5
302,8
1.599
376,9
462,5

Dihitung berdasarkan data jumlah hara oleh Siahaan et.al (1990)

Januari 31, 2010 Posted by | Uncategorized | | Tinggalkan komentar

FUNGSI HARA BAGI TANAMAN KELAPA SAWIT

x

Peranan Unsur Hara

Nitrogen
  • Penyusunan protein, klorofil dan berperanan terhadap fotosintesa
  • Kekurangan Nitrogen menyebabkan daun berwarna kuning pucat dan menghambat pertumbuhan.
  • Kelebihan Nitrogen menyebabkan daun lemah dan rentan terhadap penyakit/hama, kekahatan Boron, White Stripe dan berkurangnya buah jadi.
  • Penyebab defisiensi Nitrogen : Terhambatnya mineralisasi Nitrogen, aplikasi bahan organik dengan C/N tinggi, gulma, akar tidak berkembang, pemupukan Nitrogen tidak efektif.
  • Upaya : Aplikasi secara merata di piringan,Tambah Urea pada tanaman kelapa sawit, aplikasi Nitrogen pada kondisi tanah lembab, kendalikan gulma.

x
Defisiensi N

x
Defisiensi N – drainase buruk
Defisiensi Cu – ujung daun kering

Phospor
  • Penyusun ADP/ATP, memperkuat batang dan merangsang perkembangan akar serta memperbaiki mutu buah
    Kekurangan P sulit dikenali, menyebabkan tanaman tumbuh kerdil, pelepah memendek dan batang meruncing.
  • Indikasi kekurangan P : Daun alang-alang berwarna ungu, LCC sulit tumbuh dengan bintil akar yang sedikit.
  • Penyebab defisiensi P : P tanah rendah ( <>
  • Upaya : Aplikasi P dipinggir piringan/gawangan, kurangi erosi, tingkatkan status P tanah, dan perbaiki kemasaman tanah.
Kalium
  • Aktifitas stomata, aktifitas enzim dan sintesa minyak. Meningkatkan ketahanan terhadap penyakit serta jumlah dan ukuran tandan.
  • Kekurangan K menyebabkan bercak kuning/transparan, white stripe, daun tua kering dan mati.
  • Kekurangan K berasosiasi dengan munculnya penyakit seperti Ganoderma.
  • Kelebihan K merangsang gejala kekurangan B sehingga rasio minyak terhadap tandan menurun.
  • Penyebab kekurangan K : K di dalam tanah rendah, kurangnya pupuk K, kemasaman tanah tinggi dengan kemampuan tukar kation rendah.
  • Upaya : Aplikasi K yang cukup, aplikasi tandan kelapa sawit, perbaiki kemampuan tukar kation tanah dan aplikasi pupuk K pada pinggir piringan.
x
x
Defisiensi K – Bercak oranye (Confluent Orange Spotting)
Magnesium (Mg)
  • Penyusun klorofil, dan berperanan dalam respirasi tanaman, maupun pengaktifan enzim.
  • Kekurangan Mg menyebabkan daun tua berwarna hijau kekuningan pada sisi yang terkena sinar matahari, kuning kecoklatan lalu kering.
  • Penyebab defisiensi Mg : Rendahnya Mg didalam tanah, kurangnya aplikasi Mg, ketidak seimbangan Mg dengan kation lain, curah hujan tinggi ( > 3.500 mm/tahun ), tekstur pasir dengan top soil tipis.
  • Upaya : Rasio Ca/Mg dan Mg/K tanah agar tidak melebihi 5 dan 1,2, aplikasi tandan kelapa sawit, gunakan Dolomit jika kemasaman tinggi, pupuk ditabur pada pinggir piringan.

x
Defisiensi Mg – Sisi daun yang terkena sinar matahari menguning.
Tembaga (Cu)
  • Pembentukan klorofil dan katalisator proses fisiologi tanaman.
  • Kekurangan Cu menyebabkan Mid Crown Clorosis (MCC) atau Peat Yellow. Jaringan klorosis hijau pucat – kekuningan muncul ditengah anak daun muda. Bercak kuning berkembang diantarajaringan klorosis. Daun pendek, kuning pucat kemudian mati.
  • Penyebab defisiensi Cu : Rendahnya Cu didalam tanah gambut atau pasir, tingginya aplikasi Mg, aplikasi N dan P tanpa K yang cukup.
  • Upaya : Perbaiki rendahnya K tanah, basahi tajuk dengan 200 ppm Cu SO4.
x – Defisiensi Cu – Ujung anak daun nekrosis
– Tumbuh kerdil
Boron
  • Meristimatik tanaman, sintesa gula dan karbohidrat, metabolisme asam nukleat dan protein.
  • Kekurangan Boron menyebabkan ujung daun tidak normal, rapuh dan berwarna hijau gelap, daun yang baru tumbuh memendek sehingga bagian atas tanaman terlihat merata.
  • Penyebab defisiensi Boron : Rendahnya B tanah, tingginya aplikasi N, K dan Ca.
  • Upaya : Aplikasi 0,1 – 0,2 kg/pohon/tahun pada pangkal batang.
x
Pelepah memendek

x
Malformasi anak daun

x
Daun mengkerut

Fe
Tanda-tanda Defisiensi :

x
Ujung daun nekrosis
Tajuk atas menguning

x
Bercak seperti pulau
dengan dasar hijau

Januari 31, 2010 Posted by | Uncategorized | | Tinggalkan komentar

HAMA DAN PENYAKIT TANAMAN KELAPA SAWIT

A. Penyakit

1. Penyakit Akar (Blast disease)

Gejala serangan :

– Tanaman tumbuh abnormal dan lemah
– Daun tanaman berubah menjadi berwarna kuning

Penyebab :

Jamur Rhizoctonia lamellifera dan Phytium sp.

Cara pengendalian :

– Melakukan kegiatan persemaian dengan baik
– Mengatur pengairan agar tidak terjadi kekeringan di pertanaman
2. Penyakit Busuk Pangkal Batang (Basal stem rot/Ganoderma)

Gejala serangan:

– Daun berwarna hijau pucat
– Jamur yang terbentuk sedikit
– Daun tua menjadi layu dan patah
– Dari tempat yang terinfeksi keluar getah

Penyebab :

Jamur Ganoderma applanatum, Ganoderma lucidum, dan Ganoderma pseudofferum.

Cara pengendalian dan pencegahan :

– Membongkar tanaman yang terserang dan selanjutnya dibakar
– Melakukan pembumbunan tanaman
3. Penyakit Busuk Batang Atas (Upper stem rot)

Gejala serangan:

– Warna daun yang terbawah berubah dan selanjutnya mati
– Batang yang berada sekitar 2 m di atas tanah membusuk
– Bagian yang busuk berwarna cokelat keabuan

Penyebab :

Jamur Fomex noxius.

Cara pengendalian :

– Melakukan pembongkaran tanaman yang terserang dan membuang bagian tanaman yang terserang
– Bekas luka selanjutnya ditutupi dengan obat penutup luka

4. Penyakit Busuk Kering Pangkal Batang (Dry basal rot)

Gejala serangan :

Tandan buah membusuk dan pelepah daun bagian bawah patah.

Penyebab :

Jamur Ceratocytis paradoxa.

Cara pengendalian :

Membongkar tanaman yang terserang hebat dan selanjutnya dibakar.

5. Penyakit Busuk Kuncup (Spear rot)

Gejala serangan:

Jaringan pada kuncup (spear) membusuk dan berwarna kecokelatan.

Penyebab :

Belum diketahui dengan pasti.

Cara pengendalian : Memotong bagian kuncup yang terserang.

6.Penyakit Busuk Titk Tumbuh (Bud rot)

Gejala serangan :

– Kuncup tanaman membusuk sehingga mudah dicabut
– Aroma kuncup yang terserang berbau busuk

Penyebab :

Bakteri Erwinia.

Cara pengendalian :

Belum ada cara efektif untuk memberantas penyakit ini.
7. Penyakit Garis Kuning (Patch yellow)

Gejala serangan:

Terdapat bercak daun berbentuk lonjong berwarna kuning dan di bagian tengahnya berwarna cokelat.

Penyebab :

Jamur Fusarium oxysporum.

Cara pengendalian :

Melakukan inokulasi penyakit pada bibit dan tanaman muda. Hal ini bertujuan agar serangan penyakit di persemaian dan pada tanaman muda dapat berkurang.
8. Penyakit Antraknosa (Anthracnose)

Gejala serangan :

– Terdapat bercak-bercak cokelat tua di ujung dan tepi daun
– Bercak-bercak dikelilingi warna kuning
– Bercak ini merupakan batas antara bagian daun yang sehat dan yang terserang

Penyebab :

Jamur Melanconium sp., Glomerella cingulata, dan Botryodiplodia palmarum.

Cara pengendalian :

– Melakukan pengaturan jarak tanam, penyiraman secara teratur dan pemupukan berimbang
– Tanah yang menggumpal di akar harus disertakan pada waktu pemindahan bibit dari persemaian ke pembibitan utama.

Pengaplikasian Captan 0,2% atau Cuman 0,1%.
9. Penyakit Tajuk (Crown disease)

Gejala serangan :

Helai daun bagian tengah pelepah berukuran kecil-kecil dan sobek.

Penyebab:

Sifat genetik yang diturunkan dari tanaman induk.

Cara pengendalian :

Melakukan seleksi terhadap tanaman induk yang bersifat karier penyakit ini.
10. Penyakit Busuk Tandan (Bunch rot)

Gejala serangan:

Terdapat miselium berwarna putih di antara buah masak atau pangkal pelepah daun.

Penyebab :

Jamur Marasmius palmivorus.

Cara pengendalian :

Melakukan kastrasi, penyerbukan buatan dan menjaga sanitasi kebun, terutama pada musim hujan.

Pengaplikasian difolatan 0,2 %

B. Hama
1. Nematoda (Rhadinaphelenchus cocophilus)

Gejala serangan :

– Daun terserang menggulung dan tumbuh tegak
– Warna daun berubah menjadi kuning dan selanjutnya mengering.

Cara pengendalian:

– Pohon yang terserang dibongkar dan selanjutnya dibakar
– Tanaman dimatikan dengan racun natrium arsenit
2. Tungau (Oligonychus sp.)

Gejala serangan :

Daun yang terserang berubah warnanya menjadi berwarna perunggu mengkilat (bronz).

Cara pengendalian :

Pengaplikasian akasirida yang mengandung bahan aktif tetradifon 75,2 g/l.
3. Pimelephila ghesquierei

Gejala serangan :

Serangan menyebabkan lubang pada daun muda sehingga daun banyak yang patah.

Cara pengendalian :

– Serangan ringan dapat diatasi dengan memotong bagian yang terserang
– Pada serangan berat dilakukan penyemprotan parathion 0,02%.
4. Ulat api (Setora nitens, Darna trima dan Ploneta diducta)

Gejala serangan :

Daun yang terserang berlubang-lubang. Selanjutnya daun hanya tersisa tulang daunnya saja.

Cara pengendalian :

Pengaplikasian insektisida berbahan aktif triazofos 242 g/l, karbaril 85 % dan klorpirifos 200 g/l.
5. Ulat kantong (Metisa plana, Mahasena corbetti dan Crematosphisa pendula)

Gejala serangan:

– Daun yang terserang menjadi rusak, berlubang dan tidak utuh lagi
– Selanjutnya daun menjadi kering dan berwarna abu-abu.

Cara pengendalian :

Pengaplikasian timah arsetat dengan dosis 2,5 kg/ha atau dengan insektisida berbahan aktif triklorfon 707 g/l, dengan dosis 1,5-2 kg/ha.

6. Belalang Valanga nigricornis dan Gastrimargus marmoratus

Gejala serangan:

Terdapat bekas gigitan pada bagian tepi daun yang terserang.

Cara pengendalian :

Pengendalian dapat dilakukan dengan mendatangkan burung pemangsanya.
7. Kumbang Oryctes rhinoceros

Gejala serangan :

Daun muda yang belum membuka dan pada pangkal daun berlubang-lubang.

Cara pengendalian :

Menggunakan parasit kumbang, seperti jamur Metharrizium anisopliae dan virus Baculovirus oryctes.

Melepaskan predator kumbang, seperti tokek, ular dan burung.
8. Ngengat Tirathaba mundella (penggerek tandan buah)

Gejala serangan:

Terdapat lubang-lubang pada buah muda dan buah tua.

Cara pengendalian :

Pengaplikasian insektisida yang mengandung bahan aktif triklorfon 707 g/l atau andosulfan 350 g/l.

9. Tikus (Rattus tiomanicus dan Rattus sp.)

Gejala serangan:

– Pertumbuhan bibit dan tanaman muda tidak normal
– Buah yang terserang menunjukkan bekas gigitan.

Cara pengendalian :

Melakukan pengemposan pada sarangnya atau mendatangkan predator tikus, seperti kucing, ular dan burung hantu.


Januari 31, 2010 Posted by | Uncategorized | | Tinggalkan komentar